RESTU BUDIANSYAH RIZKI

MEREKA YANG BUKAN SAUDARA SEIMAN DENGANMU ADALAH SAUDARA SEKEMANUSIAAN DENGANMU. "ALI BIN ABI THALIB"

Breaking

Sunday, September 2, 2018

PURNAMA YANG TERTUKAR

Baca Juga

SAAT ITU BULAN PURNAMA TANGGAL 15
Oleh: Restu Budiansyah Rizki



Padang wulan
wulane koyo rino
rembulane sing awe-awe....

demikianlah dan seterusnya sahutan nyanyian anak pedesaan tatkala bulan purnama datang menyapa setiap diri yang rindu akan gemuruh pancaran cahayanya di kegelapan malam yang menyelimuti ketentraman.
bukan hanya anak-anak rupanya yang dapat menikmati bulan purnama di keheningan malam tanggal 15. setiap insanpun dapat menyeruput nikmatnya terang purnama dengan iringan nanyian kegembiraan anak-anak mereka.
bukan harta yang membuat mereka gembira.
bukan kekayaan yang membuat mereka pandai bersahutan.
dan bukan pula keglamoran yang membuat mereka riang tak tertekan.
melainkan, sosialisasi dan kebersamaanlah yang membuat katup wajah mereka mengembang menandakan kegembiraan.

seperti biasa, tatkakala bulan purnama datang bersuah mesra, masyarakat pedesaan selalu keluar rumah untuk sekedar bergabung dengan kelompok yang lain. bernyanyi iliran jawa, bergurau ala anak saudara. tak kenal handphone, tak kenal laptop, dan tak kenal elektronik komunikasi, terkecuali radio yang pada saat itu keglamoran yang mereka miliki. berbagai sudut desa selalu terlihat ramai walau hanya sebatas pendengaran untuk mengetahui bahwa di sana memang sedang terjadi keramaiaan di gelapnya malam disua dengan terangnya purnama. suara-suara itu saling berdendang di setiap urat nadi pendengaran masing-masing. alangkah indahnya peristiwa bulan purnama tanggal 15, melebihi indahnya bermain game online seperti saat ini. tak pandang usia, tak pandang kedudukan, tak pandang kekayaan, dan tak pandang jabatan, semua berbaur menjadi satu kesatuan yang tak dapat ditaksir harganya untuk dilelang. betapapun kesederhanaan itu menjadi sebuah kekayaan batin bagi setiap insan yang merasakannya. 
tidak cukup hanya nanyian dan sahutan anak-anak yang menghiasi purnama bulan tanggal 15. rupanya sesepuh dan tetua merekapun cukup santai dengan menyilangkan tangan dan kaki dengan berhidangkan kopi ataupun teh panas dalam cangkir ala abri TNI. sesekali para sesepuh mengamati cucu-cucu mereka seraya berkata "betapa mahal kebahagiaan ini, walaupun sederhana, namun sudah sangat cukup menghiasi kehidupan kami. dan kamipun pernah muda seperti mereka para anak-anak". bahkan muncul senyuman kecil yang mengingatkannya ke zaman mereka pernah sekecil dan selucu mereka tatkala bulan purnama.
tak tampak dari wajah mereka sebuah keegoisan diri.
tak tampak dari wajah mereka kesendirian diri.
dan tak tampak dari mereka hidup terpisah.
semua berbaur menjadi satu.
semua berkumpul layaknya saudara satu rumah.
semua berkumpul untuk sekedar bercanda tawa.

kemudian...
masa indah itupun semakin layu. kini era baru menyambut mereka. era yang dikatakan harus cukup prespektif jati diri untuk menghadapi kejidupan. bagaimana tidak?. rupanya sekelumit prespektif jati diri sangatlah mampu mendampingi mereka hidup dengan baik walaupun kebahagiaan kebersamaan tergantikan dengan teknologi yang mampu membuat setiap insan sibuk akan dirinya dan lingkungan masyarakat.
jika seseorang tak mampu menggunakan jati diri teknologi, maka iapun jatuh dalam lubang individualisasi teknologi.
sebaliknya...
jika seseorang mampu menggunakan jati diri teknologi, maka iapun mampu memanfaatkan teknologi sebagai bagian yang dapat memberi manfaat terhadap apa yang tidak ditemukan di era bulan purnama tanggal 15.

kegembiraan yang terngiang saat bulan purnama telah tergantikan dengan purnama layar smartphone. 
ketika anak-anak berbaur bersama saat malam tiba di bulan purnama, kini menjadi sebuah suasana yang sangat individual. 
betapa kebersamaan itu terjual dengan sebuah smartphone yang membuatnya seakan hidup sendiri.
yang dipandang bukanlah wajah saudara.
yang dipandang bukanlah wajah keluarga.
yang dipandang bukanlah wajah tetangga.
melainkan yang dipandang adalah ilusi kebahagian dari smartphone alias kebahagiaan semu, dan juga kegembiraan maya.
betapa sesekali setiap rindu akan masa purnama.
namun apalah daya.
hanya termenunglah sikap yang dapat diterima.

itulah jelmaan dari adanya smartphone.
merenggut kebahagiaan masal untuk kemudian ditukar dengan kebahagiaan parsial. jika digunakan dengan tidak bertanggung jawab, jadilah teknologi sebuah pisau tajam yang membunuh si pemakai. namun akan menjadi perantara untuk memudahkan jika dipakai sebagaimana semestinya teknologi di gunakan.

oh purnama 15.
kami rindu akan nuansa kebersamaan karnamu.
kegembiraan yang tak tergantikan.
dan kami hanya ingin ketika masanya tiba Tuhan mencabut nyawa kami. kemudian kami dihidupkan kembali dalam surgaNya, yang kami minta, kami ingin mengulang masa dimana kau pernah menyapa kami di kegelapan malam.

dari lubuk hati yang terdalam.
seseorang yang rindu akan purnama masa lampau
restu budiansyah rizki

Malang, 3 September 2018.

ilustrasi gambar oleh pihak ketiga👉👉 klik

No comments:

Post a Comment