RESTU BUDIANSYAH RIZKI

MEREKA YANG BUKAN SAUDARA SEIMAN DENGANMU ADALAH SAUDARA SEKEMANUSIAAN DENGANMU. "ALI BIN ABI THALIB"

Breaking

Thursday, November 8, 2018

ADA SYUKUR DI DALAM LINGUISTIK

Baca Juga

ADA SYUKUR DI DALAM LINGUISTIK
Oleh: Restu Budiansyah Rizki

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah fil ardhi tidak lain untuk mengurus semua yang ada di bumi tempat di mana tanah mereka pijak.
berbagai macam urusan di bumi telah Allah curahkan kepada manusia untuk kemudian dikelola sebaik mungkin. 
hal tersebut, telah memancing benih sanggahan dari para malaikat. bagaimana tidak? Allah akan menciptakan manusia yang akan selalu menumpahkan darah sebagai khalifah fil ardhi, sedangkan ada malaikat yang senantiasa bertasbih mensucikan Allah setiap saat tanpa terkecuali.
Namun, dengan tegas Allah menjawab sanggahan malaikat dengan firmanNya: Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui. hal tersebut sebagaimana termaktub dalam surat al-Baqoroh ayat 30-33 yang berbunyi:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلُُ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ {30} وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَآءِ هَؤُلآءِ إِن كُنتُم صَادِقِينَ {31} قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَآ إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {32} قَالَ يَآءَادَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّآ أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ {33}
Kemudian, dengan diciptakannya manusia sebagai khalifah fil ardhi, tidak mustahil jika selama waktu berjalan, kehidupan dan perkembang-biakan manusia semakin banyak dengan adanya kelahiran, dan kelahiran. 
semakin jauh waktu berputar, semakin padat bumi dihuni oleh salah satu makhluk Allah berjuluk Insan tersebut.
sehingga fenomena lain di luar nalar terjadi.
apakah fenomena tersebut?
dan mengapa bertajuk "di luar nalar"?

jawaban 2 pertanyaan di atas, dapat kita temukan dalam setiap lini kehidupan nyata yang sekarang kita dramakan. sebab hal tersebut tidak terjadi ketika manusia berada di akhirat kelak.

lantas, fenomena apakah itu? tidak lain adalah BAHASA.

Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk melakukan komunikasi antar sesama, komunikasi dilakukan demi menunjang dan menyatakan keinginan manusia itu sendiri. sehingga tanpa mendiskreditkan definisi bahasa, keberadaan bahasa sendiri merupakan suatu alat yang digunakan manusia dalam mematerialkan keinginannya yang masih bersifat abstrak dan belum terkonstruk secara nyata atau kongkrit dalam diri manusia. hal itulah yang kemudian dilontarkan oleh salah satu ahli linguis Ferdinand De Saussure yang menyatakan bahwa bahasa adalah alat yang digunakan seseorang untuk saling mengadakan komunikasi, di mana satu orang mencoba memframe apa yang ada dalam keinginannya, dan satu yang lain mencoba membingkai frame tersebut sesuai apa yang ia pahami dari pembicara pertama.

kita dapat mengamati di lingkungan sekitar di mana kita hidup,
  • ketika seseorang dengan asyik melalang buana menyusuri lebatnya hutan Indonesia, maka berkali-kali ia akan menemukan rimbanya BAHASA INDONESIA dengan PELANGI BAHASA di sana.
  • ketika seseorang melebarkan sayapnya untuk terbang bersama si burung besi menuju ke Inggris, maka ia akan menemukan bahwa BAHASA INGGRIS telah digunakan masyarakat  Inggris di sana.
  • ketika seseorang menyelami kehidupan di Arab Saudi, maka sesekali ia akan meneguk kenyataan bahwa BAHASA ARAB telah digunakan masyarakat Arab di sana. 
  • ketika seseorang berselancar dalam salju kehidupan di China, maka sesekali dua kali ia akan terdampar dalam badai salju fakta bahwa BAHASA MANDARIN telah menyelimuti warga China di sana
  • ketika seseorang mencoba menghirup udara dimana UPIN dan IPIN bernafas, maka ia akan menghirup oksigen seraya sadar bahwa BAHASA MELAYU telah menghempas masyarakat Malaysia di sana.
  • dan seterusnya.
dari sekian banyak ras dan suku manusia di bumi, mengapa Allah tidak menciptakan satu bahasa saja yang akan di gunakan secara serentak dan bersama? hal itulah yang kemudian dirumuskan kata "di luar nalar" manusia, mengapa perbedaan bahasa dapat terjadi dan membungkus masyrakat.

terkait bahasa yang bermacam-macam, telah Allah jelaskan dalam FirmanNya surat Ar-Rum ayat 22 yang berbunyi:
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ (22)
Subhanallah..
betapa Maha Besar Allah yang telah menciptakan berbagai bahasa di bumi ini. sehingga patut untuk disyukuri dengan sepenuh penghayatan.

untuk menghayati bahasa serta proses pemerolehan bahasa bagi manusia itu sendiri, marilah tengok sedikit cerita antara anak, ibu, dan sopir bus, di bawah ini:

pada suatu hari, seseorang bernama Restu melakukan perjalan dari Malang menuju ke Pemalang. perjalanan yang ia pilih menggunakan transportasi BUS. di tengah perjalanan, Restu dengan tidak sengaja mendengarkan percakapan antara anak, ibu dan sopir bus.
Ibu              : Pak Sopir, nanti turun di depan warung Sate Subali nggih?
Sopir           : OO iya bu.
Anak          : BU IBUUUUU, itu apa yang di depan kaca? "tanya sang anak dengan menunjuk ke arah benda yang dituju"
Ibu              : yang mana de? "tanya ibu"
Sopir          : OOH itu boneka de. "sahutnya menimpali pertanyaan sang anak balita"
Anak           : Bonekanya Lucu.! "ucap sang anak spontanitas"

dari ucapan anak, Restu tertegun sejenak seraya tersenyum. ternyata ada beberapa hal yang membuat restu tersenyum, 

Pertama, pertanyaan sang anak terkait benda
Kedua, jawaban sang sopir dengan mengatakan "Boneka"
Ketiga, sahutan anak dengan menimpali "Bonekannya Lucu"
bagaimana tidak tersenyum, mendengar proses linguistik yang terjadi pada diri anak tersebutlah yang membuat Restu tersenyum. secara Alamiah telah terjadi karunia Allah melalui bahasa yang ditanamkan pada diri manusia.

proses tersebut tidak serta merta terjadi dengan begitu saja tanpa sang anak mengetahui kata "lucu" sebelumnya. namun proses adanya korelasi kata "boneka" dan "lucu" itulah yang membuat suatu pemerolehan bahasa yang terjadi dalam diri manusia berubah menjadi sebuah keunikan.

tidak mungkin dan aneh jika sang anak mengatakan bonekanya hidup, bonekanya berbicara, bonekannya minum, dan lain-lain, justru bonekanya lucu.

sehingga secara tepat sang anak telah berhasil merekontruksi dan membuat korelasi antara "boneka" dan "lucu", karena realitanya boneka tidaklah hidup, boneka tidaklah berbicara, dan bonekanya tidak minum, namun bonekanya memang lucu dan menggemaskan karena bentuknya yang kecil.

sehingga:

"Proses pemerolehan bahasa yang terjadi dalam diri manusia, pada hakikatnya adalah karunia Allah yang harus kita syukuri"

Firman Allah dalam surat Ar-Rahman:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (13)
(nikmat tuhan yang manakah yang dapat kamu dustakan)
belajar tidak selalu di kelas, namun ilmu terkadang didapat melalui lingkungan sekitar

No comments:

Post a Comment