RESTU BUDIANSYAH RIZKI

MEREKA YANG BUKAN SAUDARA SEIMAN DENGANMU ADALAH SAUDARA SEKEMANUSIAAN DENGANMU. "ALI BIN ABI THALIB"

Breaking

Saturday, January 19, 2019

PROTOTIPE KEHIDUPAN: KETIKA ALLAH BERCOCOK TANAM

Baca Juga

PROTOTIPE KEHIDUPAN: KETIKA ALLAH BERCOCOK TANAM
(kisah Musa berdialog dengan Allah)

Restu Budiansyah Rizki
Gambar terkait
 Sumber gambar: Klik
Manusia dengan proses penciptaannya yang sangat sangat sempurna, bukan bermakna bahwa sempurna tersebut juga melekat pada sifatnya.
Hal demikian yang telah menempatkan manusia pada derajat kapan saat-saat ia melebihi malaikat. dan kapan saat-saat ia lebih rendah daripada hewan.
Sifat rendah lebih dari hewan yang melekat pada diri manusia memang selaras dengan pernyataan bahwa al-Insan Hayawanun Nathiq (Manusia adalah hewan yang dapat berbicara).

Kita pun dapat menyaksikan segala fenomena yang menggambarkan:
  1. Saat manusia itu taat dengan sang pencipta, ia akan mendapatkan kedudukan yang moncer, teristimewa bahkan tiada tara di sisi Allah ataupun makhluk yang lainnya. Sehingga acapkali Allah selalu memamerkan kualitas hambanya yang taat tersebut kepada para malaikat. "Lihatlah para hambaku, wahai para malaikat.! mereka terbangun di sepertiga malam dan menunaikan sholat. "seperti itu gumam dalam diri Allah".
  2. Namun, Saat manusia tidak taat kepada sang pencipta, ia akan mendapat kedudukan yang sangat terhina, terlacut, bahkan terkeparat di sisi Allah ataupun makhluk yang lainnya. perbuatan lacut tersebutpun acapkali lebih rendah daripada hewan sekalipun. tak segan terkadang Allah menimpakan Azab secara langsung, atau bahkan dalam kurun waktu yang lama pertanda Allah masih memberikan kesempatan untuk manusia memperbaiki diri.
Pernah suatu ketika Musa alaihi salam merasa terheran-heran dengan sikap adil Allah yang ditujukan kepada para hambanya. sehingga hal tersebut yang menggugah diri Musa untuk sesekali mengadu kepada Allah mempertanyakan hal yang menjadi sesuatu yang mengganjal dalam benaknya.

Ya Rabb, engkau adalah dzat pencipta yang menciptakan seluruh makhluk. Bahkan engkau adalah satu-satunya dzat yang mengatur kehidupan seluruh makhluk dengan serangkaian dan sederet rizki-Mu. Mengapa lantas engkau sendiri yang memasukkan mereka ke dalam nerakamu kelak di hari akhir? "Tanya Musa dengan penuh heran"

Wahai Musa, Berdirilah. dan lakukanlah pekerjaan bertani atau bercocok tanamlah dimanapun yang engkau mau? "Jawab Allah"

Musapun melakukan segala perintah yang diamanatkan untuk segera bercocok tanam, menyiraminya setiap hari diperlukan, Hal demikian ia lakukan hingga tibalah masa panen tanaman telah tiba. Musapun memanen seluruh tanaman yang telah dirawat dan diruwatnya.

Melihat Musa, Allahpun bertanya: 
Wahai Musa, adakah sesuatu yang tidak engkau tinggalkan sama sekali?

kemudian Musa pun menjawab:
Ya Rabb, Aku hanya mengambil dan membawa pulang panenanku yang berkualitas baik dan istimewa saja. sedangkan panen dengan kualitas terburuk tidak aku ambil dan bawa pulang.

Mendengar jawaban Musa, Allah lantas tersenyum dan berfirman:
Begitulah Aku (Allah), Wahai Musa!.
Aku memasukkan sebagian hambaku ke dalam neraka, hanya bagi mereka yang tidak memiliksatu kebaikan apapun.

Musapun bertanya kedua kalinya:
Siapakah mereka yang dimaksud Ya Rabb?

Lantas Allahpun menjawab:
Mereka yang tidak bersedia mengucapkan kalimat persaksian LAA ILAAHA ILLA ALLAHU WA ANNA MUHAMMADAN ROSULULLAHI.

Demikianlah sekelumit ilmu mengapa Allah yang telah mengatur makhluknya, memberikan mereka rizki, Namun justru Allah yang memasukkan mereka ke dalam neraka kelak di akhirat.

Diintisarikan dari kitab al-Mawaa'id al-Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakr
Malang, 20 Januari 2019
Restu Budiansyah Rizki

No comments:

Post a Comment